Ditulis pada tanggal 19 Desember 2017, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan, Pengumuman

01aa

Selasa, 12 Desember 2017, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMANIKA) bekerjasama dengan Jurusan Ilmu Komunikasi (JIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) dalam menggelar rangkaian workshop yang berjudul “Dialektika” dengan tema “Lebih dekat dengan penelitian komunikasi”. Acara tersebut diisi oleh dua pemateri yaitu Rachmat Kriyantono, Ph.D dan Yun Fitrahyati Laturrakhmi, S.I.Kom., M.I.Kom, yang keduanya merupakan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB.

Workshop tersebut menitikberatkan terhadap materi tentang Metode Penelitian Komunikasi (MPK) guna memberi pemahaman secara mendalam terhadap mahasiswa – mahasiswa Ilmu Komunikasi. Saat workshop berlangsung, Rachmat selaku pembicara pertama menjelaskan beberapa pengantar mengenai metode penelitian komunikasi, “Metode penelitian adalah salah satu pengetahuan dasar bagi seluruh mahasiswa yang saat ini menempuh studinya, menjadi mahasiswa berarti sama dengan menjadi seorang peneliti tentunya, kredibilitas peneliti ditentukan dari cara penelitiannya atau yang disebut juga dengan metode penelitian,” ujarnya saat mengisi materi (12/12/17).

Dalam bidang komunikasi, metode penelitian menjadi pondasi utama bagi dosen dan mahasiswa saat melakukan penelitian. Workshop tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa baru khususnya untuk mendalami bidang penelitian tersebut, serta bagi mahasiswa akhir yang sedang melakukan skripsi.

“Melakukan penelitian bukan masalah minat atau bakat seseorang, namun penelitian itu merupakan hal wajib yang harus dilakukan dan dibiasakan oleh mahasiswa maupun dosen, alasan lainnya adalah karena secara tidak langsung dosen dan mahasiwa harus bisa berkontribusi lebih untuk dunia akademis” papar Ketua Program Studi Magister (S2) Ilmu Komunikasi FISIP UB ini.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan pemateri kedua yang akrab dengan panggilan Fitrah, menyampaikan bahwa peneliti harus memahami betul bagaimana perannya dalam penelitiannya. Hal tersebut menurut Fitrah sering dilupakan oleh mahasiswa dan penelitian bagi mahasiswa sering dianggap sebagai formalitas saja, seperti skripsi untuk cepat lulus.

“Banyak mahasiswa akhir yang menilai skripsi sebagai formalitas, akibatnya mahasiswa tidak mampu berkontribusi secara maksimal terhadap penelitiannya, selain itu banyak mahasiswa yang berpikir bahwa penelitian kuantitatif lebih cepat dibanding penelitian kualitatif, hal tersebut merupakan asumsi yang tidak berdasar,” jelas Fitrah saat ditemui di Auditorium Nuswantara.

“Hal pertama yang harus dilihat oleh seorang peneliti dalam penelitian adalah fenomenanya, bukan metodologinya, cepat atau lambatnya  penelitian, tergantung pada niat peneliti atau usaha peneliti,” paparnya lagi. Fitrah menambahkan bahwa setiap dari peneliti harus memiliki Self Efficiacy, yakni keyakinan bahwa dirinya mampu menyelesaikan riset tersebut.

Rangkaian workshop dialektika yang dihadiri kurang lebih 250 peserta ini sekaligus menjadi rangkain akhir dari program kerja Advokasi Himanika. Nanda Dwika (Ilmu Komunikasi 2016) selaku ketua pelaksana dari acara ini menyampaikan tujuan dari acara ini sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memperdalam keilmuan di bidang penelitian sekaligus sebagai bekal bagi mahasiswa untuk sampai ke tahap skripsi nanti. (Anata / Humas FISIP)