Ditulis pada tanggal 30 November 2018, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan

WhatsApp Image 2018-11-30 at 11.42.06 AM

Program Studi Magister (S2) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) memberi perhatian luar biasa terhadap kampanye Pilpres 2019 yang berkualitas. Untuk itu, sumbangsih pemikiran dituangkan dalam wadah seminar bertajuk ‘Menggagas Kampanye Multikulturalisme di Indonesia’.

Acara ini digelar pada Kamis (22/11/2018) mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai di Gedung Nuswantara FISIP Universitas Brawijaya Kota Malang.

Para pakar yang kompeten sesuai tema seminar telah diundang ke acara ini di antaranya Yatimul Ainun (Pemred TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id)), Denny Bachtiar (Komisioner KPU Kota Malang), Muhammad Allam Amrullah (Komisioner Bawaslu Kab Malang) dan Bambang Dwi Prasetyo (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB).

“Gagasan kami adalah menawarkan sikap multikultural dalam proses kampanye pilpres. Sikap ini harus muncul dalam strategi kampanye tim sukses, regulasi-regulasi KPU, penanganan pelanggaran oleh Bawaslu, termasuk bagaimana peran pemberitaan media,” kata Ketua Panitia, Rachmat Kriyantono, PhD.

Lebih lanjut, Rachmat mendeskripsikan bahwa sikap multikultural adalah sikap mengakui dan menghargai perbedaan dalam kesederajatan tanpa mereduksi esensi perbedaan itu sendiri.  Menurutnya, kampanye damai yang di-launching 23 September 2018 lalu, tidak akan terwujud jika sikap multikultural ini tidak terinternalisasi dalam diri aktor pilpres, baik capres, tim sukses, regulator, pengawas maupun media.

“Sikap multicultural akan mereduksi kampanye olok-mengolok, menjelekkan, adu domba, dan fitnah. Kampanye akan bisa diarahkan pada diseminasi program, kapabilitas dan rekam jejak capres secara rasional,” papar Rachmat yang juga Ketua Program Studi S2 Komunikasi FISIP UB ini.

Doktor Ilmu Komunikasi lulusan ECU Western Australia ini menilai bahwa gagasan seminar ini bukanlah sesuatu yang baru, karena multikulturalisme merupakan hal mendasar dari Tuhan. Manusia memang diciptakan berbeda-beda, tetapi, harus saling mengenal, bekerja sama, menghormati, berkembang biak dan membangun kehidupan yang baik untuk bersama.

“Dalam konteks NKRI, keputusan Tuhan ini yang kemudian direpresentasikan dalam Dasar Negara Pancasila. Jadi, Pancasila itu Teori Multikulturalisme Indonesia, kampanye pilpres semestinya mengacu pada teori ini agar terwujud harmoni,” cetus Rachmat.

Acara Seminar ini selain akan dihadiri civitas akademika FISIP UB, juga mengundang wakil-wakil partai politik di Malang. Tujuannya agar gagasan-gagasan yang dihasilkan bisa secara langsung didengar oleh partai politik menjelang Pilpres 2019. (www.kabarpas.com)