Ditulis pada tanggal 19 Mei 2017, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan, Pengumuman

Marzuki Mustamar (tengah)

Hibridisasi dalam era globalisasi telah membawa pola dan prospek budaya ke arah peleburan satu sama lain dan menghasilkan bentuk baru. Dalam seminar dengan tajuk Islam dan Ilmu Pengetahuan yang diselenggarakan oleh program studi S3 Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) adanya hibridisasi linguistik muncul menjadi sebuah tren dalam pemberian sebuah nama. Pemberian nama sekarang banyak yang mengikuti tren yang terpengaruh oleh faktor globalisasi.

Pada kesempatan tersebut, Professor Antropologi dari George Washington University, Prof. Joel C Kuipers (Paul), menjelaskan terdapat keterkaitan antara dua bidang dalam pemberian nama orang jawa, yaitu identitas agama dan struktur sosiologi masyarakat. “Dua bidang ini kemudian bercampur menjadi hibridasi linguistik, yang menghasilkan tren nama jawa – islami,” ujarnya.

Paul menjelaskan berdasarkan pada penelitiannya di tiga Kabupaten, yakni Kabupaten Lumajang, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bantul, terjadi hibridisasi linguistik oleh unsur agama dan indentitas jawa. “Merujuk dari riset Cliffort Geertz, seorang peneliti dan ahli antropologi asal Amerika Serikat, yang telah menemukan konsep abangan, santri, priyayi, dalam konsep identitas Jawa, maka disini saya menemukan terdapat perubahan tren nama menuju ke konteks yang sangat Islami, dan tentunya hal itu tidak terlepas dari campur tangan Kyai maupun tokoh agama,” tambahnya.

Drs. K. H. Marzuki Mustamar. M. Ag. sebagai pembicara selanjutnya mengemukakan bahwa pada tahun 1960-an, agama Islam di Jawa dikategorikan menjadi “abangan” dan “priyai”. Ia  mesintesakan nama seperti Kusumo dan Bambang sebagai nama priyai. Pada Tahun 1990-an, abangan mulai runtuh dan banyak dari mereka mulai melaksanakan amal Islam secara normatif. “Tahun 1990-an para abangan ini mulai meningkatkan literasi Al-Quran. Abangan mengalami declining, maka pertanyaannya kemanakah para abangan ini mengalami diaspora?”, ujar Marzuki dalam seminar yang diselenggarakan pada hari Rabu (17/05/17).

Menurutnya, para Kyai berusaha membawa perubahan untuk lebih bergiat membina masyarakat. Semakin jauh Kyai dengan masyarakat, nantinya akan semakin memperbesar peluang hibriditas pada nama-nama masyarakat. “Kaum santri tetap ingin melestaraikan hal-hal yang baik tapi mereka tidak menolak hal-hal baru terlebih hal-hal yang baik. Nilai nama tetap dipegang, dan nilai modern juga tetap bisa diikuti. Di orang-orang santri nama itu mengadung doa yang harus dijaga”, ungkap Marzuki.

Marzuki menambahkan, kelompok puritanisme di Indonesia dalam memberikan nama murni menyadur dari nama-nama Nabi. Ada kaum-kaum santri (NU) yang tetap ingin memegang nilai-nilai tradisional tapi tetap menerima nilai-nilai modern. Ada juga kelompok-kelompok Nasionalis Indonesia Muslim (Muhammadiyah).

Masyarakat Islami harus percaya diri menjadi bagian dari Islam yang menganggap bahwa NKRI adalah harga mati. Selain percaya diri, juga harus berprestasi. Di samping prestasi, ekonomi juga harus meningkat. Sukses ekonomi bisa membuat orang percaya diri dan juga menjadi orang yang berprestasi membuat orang tidak kehilangan kepercayaan diri.

Marzuki juga menambahkan, “Menjadi Islam seperti apapun kami tetap menjadi Jawa bukan orang muslim yang nunut hidup di Jawa. Seperti itu lah kami ingin menjadi tetap Islam tetapi kami tidak mau kehilangan identitas Jawa kami dan identitas Indonesia kami”. Nama tidak harus berubah dan tidak harus mengikuti tren, yang terpenting adalah masyarakat bisa menjadi beradab, lalu menempatkan moral sebagai perhiasan yang luar biasa, dapat berprestasi dimana ilmu sebagai sebuah perkembangan dari sebuah peradaban, sehat dan yang terpenting memiliki pola hidup yang baik dengan tetap menerapkan 3B yaitu Behavior, Brand, Beautiful. (Rama / Humas FISIP)