Ditulis pada tanggal 25 Juli 2017, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan, Pengumuman

Maulina Pia Wulandari

MALANG – Indonesia sebagai salah satu negara berkembang memiliki ratusan ribu perusahaan sebagai pelaku industri. Setiap institusi maupun organisasi tidak akan pernah terlepas dari krisis. Krisis merupakan unpredictable event yang artinya sesuatu yang tidak diharapkan datang dan berpotensi mengancam keberlangsungan dan tujuan organisasi. Berbekal sumber daya yang mumpuni di bidang penanganan krisis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) melalui program pengabdian masyarakat yang diketuai Maulina Pia Wulandari, PHd mengadakan “One Day Training Communication Crisis Strategies” bagi praktisi Humas di Malang Raya, termasuk humas dari perusahaan, sekolah menengah, juga universitas (25/7/17).

Acara tersebut menghadirkan pakar – pakar public relations atau yang biasa disebut humas, yakni Maulina Pia Wulandari, PHd : Senior Lecturer of Public Relations (PR), University Brawijaya, Stefanus Aditya Bagus Priambodo sebagai Experter of Risk, System and Compliance, Andina Paramitha selaku Chief Executif Officer Ligno Consultant, dan Naning Yusuf selaku Corporate & Developmen Director Times Indonesia Network. Acara tersebut juga dimoderatori oleh Anita Yudi dari Event Relations Ligno Consultant.

 Pada sesi materinya, Maulina Pia Wulandari, PHd yang akrab dipanggil Pia menuturkan bahwa krisis tidak selalu menimbulkan ancaman, namun juga dapat memberikan peluang jika praktisi humas dapat menyusun langkah yang disebut “Communication Crisis Planning”. “Langkah komunikasi krisis yang harus dikeluarkan seorang PR harus disesuaikan dengan jenis – jenis krisis yang menyerang perusahaannya, dua jenis krisis tersebut adalah victim crisis yakni perusahaan sebagai korban dalam krisis seperti korban bencana alam dsb, preventable crisis yakni krisis disebabkan oleh human error, seperti kesalahan karyawan di tempat kerja,” jelasnya.

Pada kesempatan selanjutnya Stefanus Bagus selaku pakar ahli di bidang resiko, sistem dan kepatuhan menjelaskan salah satu langkah komunikasi krisis adalah perusahaan harus berkomunikasi dengan stakeholders baik dengan karyawan, komunitas, masyarakat maupun media. “Saat krisis terjadi, perusahaan dapat memilih apakah ia akan bertahan atau justru gagal menangani krisis. Perusahaan berdiri untuk masyarakat dan terlegitimasi dari masyarakat, begitu pula dengan krisis. Persoalan utama krisis adalah antara manusia dengan manusia, maka selesaikanlah dengan berkomunikasi antara keduanya” tuturnya.

Berbekal pengalaman menjadi konsultan PR di saat krisis, Andina selaku CEO Ligno Consultant, menambahkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan merupakan hal terpenting yang menunjukkan bagus tidaknya reputasi perusahaan. “Saat ini 75 persen permasalahan fundamental yang dihadapi perusahaan di dunia adalah masalah reputasi, dan membangun reputasi itu tidak mudah, terlebih jika perusahaan berada dalam krisis, dengan melalui krisis, perusahaan dapat memperoleh reputasi yang semakin kuat atau justru sebaliknya gagal dan gulung tikar,” jelas Andina.

Berkomunikasi dengan media merupakan poin yang tidak boleh terlupakan bagi perusahaan, terutama jika perusahaan menginginkan pemulihan citra. “Media bisa jadi teman, sahabat bahkan musuh, namun berkerja sama dengan media tidak pernah rugi, antara perusahaan dengan media dapat saling memberikan keuntungan, bahkan dalam keadaan krisis, media dapat dijadikan senjata bagi perusahaan untuk melancarkan arus informasi” jelas Naning selaku Corporate & Developmen Director Times Indonesia Network. (Anata / Humas FISIP)