Ditulis pada tanggal 18 Mei 2017, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan, Pengumuman

Budiono Darsono

Kuliah Tamu yang diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya dengan tema tema “Media Online, Masyarakat Infromasi dan Hoax” mendapat respons positif dari audiens. Auditorium Nuswantara Gedung B FISIP UB sebagai lokasi acara dipenuhi oleh berbagai segmen audiens, mulai dari dosen, mahasiswa dan masyarakat umum. Kuliah Tamu yang dihadiri oleh Budiono Darsono sebagai pembicara merupakan kesempatan langka untuk publik. Budiono Darsono merupakan pendiri detik.com sekaligus Presiden Komisaris kumparan.com, selain itu beliau sempat bersama – sama mengelola kompas.com.

Acara tersebut (18/05/2017) dimoderatori oleh Dosen Ilmu Komunikasi Fisip UB yaitu Bayu Indra Pratama dengan dua pembicara yaitu Budiono Darsono dan Megasari Noer Fatanti selaku Dosen Ilmu Komunkasi UB. Mega menyampaikan bahwa kemajuan digital merupakan alasan adanya Masyarakat Informasi, serta kemajuan media online dan penyebaran Informasi yang cepat menjadi pertanda dunia mengalami perkembangan digital yang sangat luar biasa.

Selain itu, Mega juga menambahkan tentang bahaya hoax dalam masyarakat informasi. Munculnya hoax bisa muncul dari ujaran kebencian. Ujaran kebencian tersebut dapat tertuang melalui kartun politik satire, atau berita yang sebenarnya merupakan opini dari individu yang tidak bertanggungjawab dalam penyebaran berita tersebut.

Budiono selaku  pembicara pada kuliah tamu tersebut menjelaskan bahwa saat ini masyarakat memprioritaskan media online daripada media cetak maupun media konvensional sebagai sumber utama informasi mereka. Untuk itu, media online terus bertransformasi hingga saat ini untuk mencetak berita yang berkualitas dan kredibel. “Ada tiga prinsip utama dalam menerbitkan berita yaitu kecepatan, verifikasi dan akurasi. Ketiga – tiganya harus seimbang, tidak boleh jika hanya akurasi namun lambat, atau sebaliknya,” Ujar Budiono.

Budiono juga menjelaskan generasi saat ini harus lebih paham dalam membedakan portal berita online yang beredar di media online. Ada banyak media yang tidak terverifikasi oleh Dewan Pers sehingga mereka menerbitkan berita secara sepihak dan tentu tidak mengikuti kaedah jurnalistik yang benar.

Menurut Budiono berita hoax tersebut mudah sekali menyerang masyarakat yang rentan akan informasi dan pengetahuan. Selain itu, ia menyatakan media online juga tidak terlepas dari kesalahan dalam pemberitaan, dan jika terbukti berita tersebut keliru, maka proses pembenaran ataupun penghapusannya akan sangat rumit. Ia mengatakan hak untuk menghapus berita hanya dapat dilakukan oleh pimpinan redaksi, dan hal tersebut dapat dilakukan hanya jika sudah disetujui oleh Dewan Pers. Hal itu merupakan bentuk tanggungjawab media online dalam pemberitaan. Maka dari itu dalam proses penyusunan berita, media online mengawasi jurnalisnya dengan sangat ketat.

Menurutnya media online merupakan lapangan kerja yang displin dalam memperlakukan pegawainya. “Pegawai yang dimaksud adalah si wartawan yang mencari berita, dalam prosesnya, wartawan dituntut memiliki skill yang mumpuni untuk menulis berita yang terverifikasi, akurat dan cepat, menurutnta tiga hal tersebut merupakan tantangan besar bagi media online untuk menyajikan berita yang kredibel,” ujarnya. (Anata / Humas FISIP)