Ditulis pada tanggal 15 Juni 2017, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan, Pengumuman

IMG_0262

Dinamika isu sosial politik di masyarakat Indonesia yang mengkhawatirkan dan dapat begitu cepat berubah sewaktu-waktu, ditambah lagi minimnya kepedulian generasi milenial terhadap dunia literasi, mendorong Pijak Batas untuk mengadakan acara “Ngabuburead Neolit 2017”, Minggu (4/6), di Ngalup Co.  Dikemas dengan dua rangkaian acara, yakni nonton bareng film tentang literasi digital berjudul “Lentera Maya” dan talkshow dengan tema “Literasi Sosial Politik pada Generasi Milenial di Era Digital.”

Diskusi berjalan dengan gayeng dengan pembahasan pertama terkait literasi secara umum. “Literasi tidak hanya terbatas pada membaca, melainkan lebih mendalam, juga berkaitan dengan kemampuan mengkritisi, hingga melakukan analisa dan evaluasi dalam konteks literasi yang baik,” ujar Ibnu Pohan, Dosen Ilmu Politik UB.

Hadir pula, tiga narasumber lain, yakni Eko Cahyono, pegiat literasi & Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, Husnun N. Djuraid, selaku praktisi media massa sekaligus komisaris harian Malang Post dan Abdul Wachid, Dosen Ilmu Komunikasi UB dengan dimoderatori oleh Heppy Silaen.

Menurut Eko, sebenarnya fakta yang ada di lapangan justru berbanding terbalik dengan data yang menyebutkan masih rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia. Di Malang saja, geliat literasinya tampak dengan bermunculannya banyak komunitas literasi dan jumlah perpustakaan yang mencapai 120 perpustakaan.

Di era yang begitu terbuka ini, arus kesediaan informasi yang memunculkan isu sosial politik yang kemudian menjadi bahan pembicaraan. “Hal ini menguntungkan, karena masyarakat dapat dengan bebas mengekspresikan gagasannya, namun di sisi lain akan menjadi merugikan jika informasi yang hoax menjadi viral dan meresahkan masyarakat,” ujar Husnun.

Cara menerapkan literasi sosial politik bagi kalangan muda, menurut Eko Cahyono, bahwa anak muda harus memiliki sikap pro aktif bukan hanya dengan demo turun ke jalan, tetapi harus membuat sistem penggerak yang memberikan saran, masukan dan membantu. Abdul Wachid berpesan bahwa jangan takut untuk meminjamkan buku kepada orang lain, karena ada hak orang lain di dalamnya.

Talkshow tersebut merupakan acara kampanye Literasi Sosial Politik yang diselenggarakan Biro Konsultan Public Relations “Pijak Batas”, mahasiswa peminatan Public Relations, Jurusan ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya dalam rangka Hari Buku Nasional.  Ketua Pelaksana sekaligus CEO Pijak Batas, Danang Fajar Pamungkas, menjelaskan acara ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian peserta terhadap dunia literasi. Sehingga, dapat lebih kritis dalam menyikapi isu dan berita sosial politik yang ada, serta dapat menangkis berita hoax yang bisa menimbulkan permasalahan. Dengan mengumpulkan para Neolit, gagasan dari Pijak Batas untuk menyebut generasi milenial yang paham, peduli serta berdedikasi bagi kemajuan bangsa melalui literasi sosial politik.

Pesan dari keempat narasumber talkshow Ngabuburead Neolit ini, bahwa generasi milenial harus banyak untuk mulai mempelajari sejarah, meninggalkan plagiasi dan belajar untuk lebih banyak menghasilkan karya, jangan meninggalkan perpustakaan dan milenial harus turun gunung atau pro aktif dalam menelurkan karya-karya untuk menggerakkan literasi di kalangan masyarakat. (Arini / Humas FISIP)