Ditulis pada tanggal 23 Agustus 2017, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Pengumuman

IMG_8623-23-08-17-09_19

IMG_8620-23-08-17-09_19

Sukses diselanggarakan selama dua hari, International Conference ASEAN Golden Anniversary menghasilkan beberapa poin diskusi terkait kinerja ASEAN yang sudah berusia 50 tahun. Diskusi yang dipandu oleh Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, S.IP., M.Si ini dihadiri oleh beberapa pembicara seperti Termsak Chalermpalanupap dari ASEAN Studies Centre of the ISEAS – Yusof Ishak Institute Singapore, Linda Quayle dari The University of Nottingham Malaysia Campus, Ekraj Imran Sabur selaku Director of International Institute of Peace and Development Studies, Chilman Arisman selaku Permanent Mission of Republic Indonesia to ASEAN, serta Mely Noviryani, dosen Hubungan Internasional FISIP UB.

Beberapa poin hasil diskusi membahas tentang integrasi ASEAN yang dapat dilakukan melalui tiga pilar secara berurutan dan berkesinambungan. Banyak isu yang mengiringi perjalanan ASEAN untuk berkembang. Diantaranya adalah isu politik yang masih sulit diuraikan karena masalah-masalah yang bersifat stagnan, kemudian kurangnya kedekatan dengan masyarakat bawah yang dapat memunculkan stigma ASEAN adalah organisasi ‘elite’, serta sarana penyebaran informasi resmi kepada masyarakat ASEAN yang masih belum diaplikasikan hingga saat ini. Selain itu perkembangan teknologi di ASEAN yang tidak terintegrasi ini menyebabkan banyaknya pertemuan berujung tanpa progres selanjutnya. Pertemuan-pertemuan ini berada dalam tataran golongan pemerintah. Sehingga, memunculkan pandangan masyarakat luas bahwa ASEAN bersifat ‘elite’.

Terdiri atas 10 negara, ASEAN sebenarnya sudah memiliki identitas seperti logo, lambang, bendera dan lagu resmi. Namun, terdapat miskonsepsi terhadap makna identitas tersebut. Sehingga perlu penginformasian pada banyak lapisan. Selain itu, kelanjutan dari lembaga-lembaga ASEAN seperti ASEAN Study Center yang masih belum dirasakan manfaatnya di lapisan masyarakat dikarenakan bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.

Dalam rangka mengurai permasalahan yang sudah disebutkan di atas, ASEAN memiliki program pertemuan Negara-Negara ASEAN di ranah yang lebih rendah seperti pertemuan pelajar. Dengan begitu generasi muda bisa memberikan kontribusi berupa memberikan sudut pandang permasalahan yang berbeda sehingga dapat menyatukan masayarakat ASEAN. Hal lainnya yang harus dilakukan adalah membangun perdamaian antar Negara anggota ASEAN untuk mendorong harmonisasi di tingkat internal. Menggunakan pendekatan yang berbeda dengan visi yang sama.

Merebaknya tren populisme pada negara-negara juga mendatangkan pengaruh bagi pengintegrasian ASEAN. Hal ini karena terciptanya ragam keterbukaan ke entitas yang lebih kecil. Karena hal-hal tersebut, penting bagi ASEAN untuk semakin melebarkan pengaruhnya kepada negara-negara anggota. Mengintegrasikan dari segi ekonomi terlebih dahulu untuk kemudian ditularkan ke bidang-bidang lain. (Nov / Humas FISIP)