Ditulis pada tanggal 17 Mei 2018, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan

RK

Di era global ini, masyarakat telah dimudahkan dalam mengakses informasi melalui internet. Hal tersebut tentunya berdampak positif bagi perkembangan informasi. Namun jika informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka akan timbul masalah baru.

Sebagai praktisi PR, salah satu masalah yang harus dihadapi adalah berkembangnya isu-isu negatif di masyarakat. Sebab meskipun mereka telah dimudahkan dalam memperoleh informasi, kemampuan untuk menyaring informasi masih kurang.

Hal tersebut dibahas Rachmat Kriyantono, Ph.D dalam Talkshow Public Relations Practices in Two Countries “Indonesia-Malaysia” yang diadakan oleh jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB). Rachmat memberikan satu contoh permasalahan yang disebabkan oleh masyarakat yang sangat mudah mempercayai isu.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Nuswantara pada hari Rabu, 16 Mei 2018, Rachmat mengangkat cerita produk Ajinomoto yang dulu pernah tersangkut isu mengandung minyak babi. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, penjualan produk Ajinomoto mengalami penurunan drastis.

“Apa yang dilakukan Ajinomoto setelah itu? Perusahaan mereka meminta tolong kepada Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Mereka mengundang Gus Dur untuk mengonfirmasi bahwa produk mereka tidak mengandung minyak babi kepada para wartawan”, jelasnya.

Penyelesaian isu tersebut juga menegaskan bahwa perusahaan juga harus menjalin hubungan baik dengan media agar dapat mendapat kepercayaan dari masyarakat. Dengan mendapatkan kepercayaan tersebut maka sistem perusahaan juga akan dapat berjalan dengan baik. (Lita/Humas FISIP)