Ditulis pada tanggal 30 November 2015, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan, Pengumuman

IMG_4827

Dalam teorinya, Noam Chomsky mengemukakan bahwa media adalah bagian propaganda rezim. Dengan kata lain, independensi murni media tidak ada. Secara normatif, media di Indonesia tidak boleh memihak. Namun bagaimanakah fakta di lapangan?

Pernyataan Chomsky inilah yang menjadi pengantar dalam seminar Peran Media dalam Politik Indonesia, Rabu (25/11/2015) yang menghadirkan Editor In Chief (Pimpinan Redaksi) RCTI, Eddy Suprapto dengan moderator Pakar Studi Media dan Komunikasi FISIP yang juga merupakan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP, Anang Sujoko, D.COMM. Acara yang dihadiri oleh sekitar 100 orang mahasiswa program sarjana dan pascasarjana ini diadakan di Lantai 7 Gedung Prof Darsono Wisadirana FISIP.

Dalam seminar yang berlangsung kurang lebih tiga jam, Eddy yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik sejak tahun 1996, memaparkan fakta tentang perjalanan media sebagai alat propaganda mulai jaman kemerdekaan hingga di era industri media sekarang. Pada perkembangannya, gugurlah teori propaganda Chomsky dan muncul teori baru, yaitu populis partnership yang ditandai dengan pembelahan media pada Pilpres 2014 lalu. Beberapa media secara terang-terangan menunjukkan dukungannya kepada kandidat tertentu. Presiden Indonesia terpilih yaitu Jokowi, menjadi media darling karena solidnya dukungan dari social media. Bahkan saat pemberitaan media konvensional bersifat negatif, tim social media Jokowi dengan tanggap memberikan counter.

Selanjutnya, Eddy bergerak ke konteks politik dunia. Di tengah seminar, Eddy sempat melontarkan studi kasus kepada audience tentang bagaimanakah cara yang paling efektif apabila negara asing ingin menguasai Indonesia. Jawaban mahasiswa cukup beragam. Ada yang mengatakan untuk mengadu domba, menghasut, sampai menawarkan bantuan agar tercipta ketergantungan. Eddy sangat mengapresiasi jawaban tersebut. Ia menjelaskan, sebagai ekuator dunia, Indonesia mengandung udara terbersih, migas yang banyak, dan bahan pangan mudah tumbuh. Potensi tersebut menjadikan Indonesia negara yang menarik bagi penguasaan negara asing.

Di sesi tanya jawab, Eddy dibombardir dengan banyak pertanyaan dari mahasiswa yang hadir. Independensi media, kampanye politik di media, posisi media dalam perpolitikan Indonesia menjadi topik yang hangat didiskusikan dalam sesi ini. Dari situ, Eddy menyimpulkan bahwa media menjadi penunjuk arah kebijakan dan perekam jejak naik turunnya kondisi ekonomi politik nasional. Diharapkan dari seminar ini, mahasiswa dapat memperoleh insight tentang praktik industri media serta menelaah hakikat media di era teknologi informasi.(ilkom FISIP UB)