Ditulis pada tanggal 23 November 2018, oleh Humas FISIP, pada kategori Berita, Kegiatan

WhatsApp Image 2018-11-23 at 3.35.02 PM WhatsApp Image 2018-11-23 at 3.35.03 PM

Perguruan Tinggi memiliki peran menyiapkan tenaga-tenaga handal yang dapat berkiprah di masyarakat dan dunia industri sehingga ketersediaan kurikulum yang berkualifikasi kompetensi menjadi keniscayaan. Tantangan ini makin besar dirasakan di tengah perubahan masyarakat akibat stimulus perkembangan teknologi komunikasi. Demikian rangkuman seminar lokakarya (semiloka) kurikulum Program Studi Magister Komunikasi Universitas Brawijaya bersama para praktisi. Semiloka ini merupakan wujud sinergisitas antara dunia kampus dengan dunia industri. Selain menghadirkan para akademisi dari Prodi Magister Komunikasi UB, semiloka ini menghadirkan CEO Times Indonesia, Khoirul Anwar, M.Pd; Humas LIPI Kebon Raya Purwodadi, Fitria Wijaya, M.I.Kom; dan mantan Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud yang juga Guru Besar Universitas Indonesia, Prof Ibnu Hamad.

Dari pengalamannya sebagai praktisi media, Khoirul Anwar menyampaikan gagasan bahwa kurikulum harus mencakup beberapa hal pokok, yakni konstruksi dan perilaku media, disrupsi media, teknologi, dan kebutuhan 4.0 serta kekhasan dan marketing kurikulum. Kebutuhan kandungan kurikulum ini, menurut Anwar, diperolehnya dari beberapa event penting, yakni pertemuan tahunan WAN-IFRA ASIA di Singapura, 23-25 Mei 2018, ASIAN Editor Forum di Vienna, Dubai 2-6 Juli 2018, ASIAN MEDIA DIGITAL, Singapura, 6-8 November 2018, World Economic Forum,  2018, menghasilkan 10 skill era 4.0, dan diskusi-diskusi LITBANG TIMES Indonesia. “Ketergantungan masyarakat 4.0 pada sistem big data, game, fun, realitas maya, praktis dan cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Membuat media membutuhkan lulusan dengan kualifikasi mampu mengonstruksi media 4.0 yang mengarah pada bisnis big data, share of awarness, positive-building content, meningkatkan produksi dan konsep Platform baru yang mengacu pada big data, seperti Google Initiative, GMaps Trends, mampu mengikuti Ddisrupsi media 4.0, dan memiliki semangat anti Hoax”, lanjut Anwar.

Dari perspektif praktisi humas pemerintah, Fitri menegaskan bahwa kurikulum harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi aktif berkomunikasi kepada rrrakyat dan narasi tunggal dalam berkomunikasi, mampu menyusun agenda setting, dan mampu mendorong keterlibatan public dalam pengambilan keputusan. Akademisi tamu, Prof Ibnu Hamad menekankan pentingnya penyusunan kurikulum berdasarkan visi universitas dan diarahkan memenuhi daya saing lulusan di dunia kerja.

Ketua Prodi Magister Komunikasi UB, Rachmat Kriyantono, menjelaskan tujuan semiloka ini untuk mendapatkan masukan-masukan dari pakar dan praktisi untuk menyusun kurikulum baru agar dapat memenuhi tuntutan perkembangan masyarakat. Hasil semiloka ini akan dirumuskan oleh tim kurikulum yang diketuai Maulina Pia Wulandari menjadi kurikulum yang lengkap sehingga dapat diterapkan pada 2019. (Magister FISIP UB)