Head of Master Program of Communication Science Take Strengthen Awareness of DiversityKaprodi S2 Komunikasi FISIP UB ajak Masyarakat Perkuat kesadaran keberagaman untuk tangkal terorisme

09 Mei 2018 14 Mei 2018 Head of Master Program of Communication Science Faculty of Social and Political Science Brawijaya University (FISIP UB) think if not watch out for this, threat social conflict can enlarge and be serious threat for Nation or NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Also in some acts of terror blasting bomb in Surabaya and Sidoarjo. This said when he was be the speaker in event “Forum Pendidikan Wawasan Kebangsaan” which was held in National Unity Office and Governance Politics Kediri. This event held twice that is in May 9th, 2018 with participant who representative of Karang Taruna, Community Empowerment Institutions of Village, and administrators of PKK overall Kediri city, and on May 14th, 2018 with participant who representative student from college Santri of Boarding School overall Kediri city. Rachmat rate Indonesia which rich human resources and rich cultural diversity, tribe, and this local language generate opportunities posperity for people. Bargaining position that strong in International and cultural which can be icon of world tourism. However, condition of Indonesia also be a challenge form of effort unify many tribe be a nation, social conflict causes difference and if dissolved divide the nation. “We are great nation. Consist of many nations, but able merges in one nation. Different with Arab nation consist of many nations, and until now still occur conflict prolonged”. Rachmat said, who got Ph.D of communication in Australia. Diversity of Indonesia threatened by many factors that is conflict of interest especially politics different of view, to dissent sectarian and religious, ideology war: capitalism, liberalism, communism, etc, social gap and economics, technology of communication. “This time religion which should be guidelines life evidently be on of factors threatening unity this nation. This thing occurs because among religion people can mocking each other and hate speech and behalf of the religion” Rachmat said. Even, oftenly religion being covered to right in acts violence terrorism. In the event also attend head of Kesbangpol of Kediri city, Tanto Wijohari and Kasatbimmas Polres of Kediri city, also said three solutions. First, need education with national insight intensively that is develop how to view nation of Indonesia about self and environment, with give priority unity and unity of area society behavior, nation, and country. Next, develop multicultural education which growth attitude to admit differences in equality essence of the difference. “Pancasila is multicultural theory which was with our society, and sources from religion values. Rachmat said, he is a person who many times believed Kesbangpol Office of Kediri city to give socialization. Third solutions, in Rachmat opinion is wise in use social media. Right now, social media also be tools to deploy slander messages fighting, bullying, hoax, and radicalism, threatening fraternity and unity of Indonesia. In the event which titled diversity culture to supports unity of this nation. Head of Kesbang Office, Tanto Wijohari also push important awareness with keep unity of NKRI. Tanto also explained tasks of institutions that is evaluating permissions related studies which doing in Kediri city, coaching nation life, politics in Kediri city. (Master Communication Science of FISIP UB)09 Mei 2018

Kegiatan 09 Mei 2018

14 Mei 2018

Kegiatan 14 Mei 2018

Ketua Program Studi Magister (S2) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya (UB) menilai jika tidak diwaspadai, ancaman konflik sosial dapat membesar dan menjadi ancaman serius bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ditambah lagi dengan beberapa kejadian aksi terror peledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo. Hal ini disampaikan saat menjadi narasumber acara Forum Pendidikan Wawasan Kebangsaan yang diadakan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Kota Kediri. Acara ini diadakan dua kali, yakni pada 9 Mei 2018 dengan peserta perwakilan Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan, dan pengurus PKK se-Kota Kediri, dan 14 Mei 2018 dengan peserta perwakilan mahasiswa dari perguruan tinggi dan santri pondok pesantren se-Kota Kediri. Rachmat menilai Negara Indonesia yang kaya sumber alam dan kaya ragam budaya, suku bangsa serta Bahasa daerah ini menghasilkan peluang kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat, bargaining position yang kuat di kancah internasional dan budaya yang dapat menjadi ikon pariwisata dunia. Tetapi, kondisi Indonesia tersebut juga mengandung tantangan berupa usaha keras menyatukan banyak suku bangsa menjadi satu negara, konflik socsial akibat perbedaan, dan jika berlarut dapat memecah belah bangsa. “Kita ini bangsa hebat. Terdiri dari banyak bangsa tetapi mampu menyatu dalam satu negara. Berbeda dengan bangsa Arab yang terdiri dari banyak negara, dan hingga kini masih terjadi konflik berkepanjangan,” kata Rachmat yang memperoleh gelar PhD komunikasi di Australia ini. Keberagaman Indonesia saat ini terancam oleh beberapa faktor, yakni konflik kepentingan, terutama politik, perbedaan cara pandang hingga perbedaan pendapat, sektarian dan agama, perang Ideologi: Kapitalisme, Liberalisme, Komunisme, dll, kesenjangan sosial dan ekonomi, dan teknologi komunikasi. “Saat ini, agama yang mestinya menjadi pedoman hidup ternyata menjadi salah satu faktor yang mengancam kesatuan bangsa ini. Hal ini terjadi karena antarumat beragama bisa saling mengejek dan hatespeech dengan atas nama agama” ungkap Rachmat. Bahkan, seringkali agama dijadikan bungkus pembenar dalam melakukan aksi kekerasan terorisme. Dalam acara yang juga menghadirkan Kepala Kantor Kesbangpol Kota Kediri, Tanto Wijohari dan Kasatbimmas Polres Kota Kediri, juga disampaikan tiga solusi. Pertama, perlu pendidikan wawasan ebangsaan secara intensif, yakni membangun cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam perilaku bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kedua, membangun pendidikan multikultural yang menumbuhkan sikap mengakui dan menghargai perbedaan dalam kesederajatan tanpa mengurangi esensi perbedaan itu. “Pancasila adalah teori multikultural yang sudah pas dengan masyarakat kita, dan bersumber dari nilai-nilai agama,” kata Rachmat yang sudah beberapa kali dipercaya Kantor Kesbangpol Kota Kediri untuk memberikan sosialisasi. Solusi ketiga, menurut Rachmat adalah bijak dalam menggunakan media sosial. Saat ini medsos juga menjadi sarana penyebaran pesan-pesan fitnah, adu domba, pembullyan, hoax, dan radikalisme yang mengancam persaudaraan dan keutuhan NKRI. Dalam acara yang bertajuk kesadaran keberagaman budaya dalam mendukung persatuan dan kesatuan bangsa ini, Kepala Kantor Kesbang, Tanto Wijohari, juga menekankan pentingnya kesadaran bersama menjaga keutuhan NKRI. Tanto juga menjelaskan tugas-tugas lembaganya, yakni mengevaluasi perizinan terkait penelitian-penelitian yang dilakukan di Kota Kediri dan pembinaan kehidupan berbangsa, bernegara, dan berpolitik di Kota Kediri.   (Magister Ilkom FISIP UB)

Export date : Thu, 20 Sep 2018 21:52:55
Exported from [ http://fisip.ub.ac.id/berita/kaprodi-s2-komunikasi-fisip-ub-ajak-masyarakat-perkuat-kesadaran-keberagaman-untuk-tangkal-terorisme.html ]