FISIP UB menjadi Lokasi Tes UTBK bagi Calon Mahasiswa Difabel

Senin (12/4) menjadi hari pertama pelaksanaan UTBK-SBMPTN. Agenda ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemyelenggara karena diadakan dalam suasana pandemi. Selain itu banyak juga calon mahasiswa yang difabel sehingga menambah tantangan bagi peyelenggara.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menjadi salah satu fakultas di Universitas Brawijaya yang ramah terhadap difabel, hal ini dibuktikan dengan selalu ditunjuknya FISIP UB menjadi lokasi tes bagi peserta berkebutuhan khusus di Pusat UTBK-SBMPTN UB. Pernyataan ini disampaikan oleh Dekan FISIP UB, Dr. Sholih Mu’adi saat meninjau pelaksanaan UTBK hari pertama, Senin (12/4) di Gedung B FISIP UB.

“Ruang ujian yang ada di FISIP ada di laboratorium komputer yang letaknya di lantai 1, jadi aksesnya mudah,” tuturnya.

Pada gelombang pertama UTBK-SBMPTN 2021 ini, terdapat 2 peserta difabel yang melakukan tes di fakultas jingga tersebut. Mereka adalah peserta tunarungu dan tunanetra.

Untuk peserta tuna rungu, ia bergabung dengan peserta umum lainnya karena hanya mengalami masalah pendengaran. Sedangkan untuk satu peserta tuna netra, dijadwalkan mengikuti tes pada hari Kamis (15/4/2021) besok.

“Bagi peserta tunanetra telah disiapkan komputer khusus oleh panitia” imbuh Edy Rosanto. Koordinator UTBK SBMPTN FISIP UB

Sebanyak 80 Peserta UTBK melakukan  tes di FISIP UB. Total ruang tes yang disediakan oleh pihak FISIP-UB yakni 5 ruangan, yang terdiri dari 3 laboratorium komputer dan 2 ruang kelas.

Edy mengatakan FISIP menyiapkan lebih dari 80 komputer termasuk komputer cadangan pada pelaksanaan UTBK tahun ini. Selain itu penerapan protokol yang ketat juga dilakukan sesuai dengan anjuran pemerintah. Penerapan protokol kesehatan tersebut meliputi penyediaan tempat cuci tangan, kemudian peserta UTBK dicek suhu badan terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan, didalam ruang ujian juga dilakukan penerapan jaga jarak antarpeserta.

“ Di luar ruan ujian, kami sediakan kursi untuk peserta meletakkan tasnya di kursi. Sehingga masuk ruangan tanpa membawa tas. Lalu ruangan kami semprot sebelum peserta datang dan sesudah ujian. Begitu juga ruang transit”, pungkas Edy